KUDETA MESIR
Lebih dari 70 Warga Mesir Tewas dalam Pembantaian Sabtu Subuh
Lebih dari 70 Warga Mesir Tewas dalam Pembantaian Sabtu Subuh
Solopos.com, KAIRO — Spekulasi jumlah korban jiwa
akibat serangan militer terhadap demonstran pendukung Presiden Mesir terguling
Mohamed Mursi, Sabtu (27/7/2013) subuh lalu, sepertinya mendekati realita.
Kantor Berita Reuters, Minggu (28/7/2013),
menyebutkan 72 orang tewas, sedangkan kantor berita resmi MesirMENA menyebut 74 orang.
Sebelumnya, jumlah korban tewas itu simpang siur. Kantor
BeritaAntara yang mengutip AFP mula-mula menyebutkan angka 120 orang tewas dan lebih seribu orang terluka sesuai keterangan juru bicara
demonstran. Angka itu selanjutnya sempat surut ke 20-an orang, lalu naik lagi
menjadi 40-an. Belakangan Reuters menyebut
72 jiwa manusia melayang akibat peluru militer Mesir yang dibidikkan ke arah
demonstran pro Morsi.
Bukan tanpa alasan jika kantor berita menyebutkan angka yang
berbeda-beda. Kebebasan pers pascakudeta yang dimotori Menteri Pertahanan yang
juga Panglima Angkatan Bersenjata Mesir Jenderal Abdel Fatah Al Sisi, 3 Juli
lalu, terberangus. Stasiun televisi yang dianggap mendukung Morsi dilarang siaran,
bahkan staf dari afiliasi Al-Jazeera di
Mesir ditangkap beberapa saat setelah saluran televisi internasional itu menayangkan
pidato Presiden Morsi yang menentang ultimatum militer menjelang kudeta.
Seorang wartawan lokal selanjutnya bahkan berhasil
mengabadikan tampang pembunuhnya yang membidikkan moncong senapan sebelum
peluru menghapuskan nyawanya dari muka Bumi. Saat itu, dia tengah mengabadikan
pembantai demonstran pro Morsi yang menghasilkan catatan tewasnya 51 jiwa warga Mesir, termasuk jiwa wartawan
itu.
Pemberangusan atas kebebasan pers itu terasa lebih
transparan terlihat dunia kala dua kubu demonstran pro militer dan pro Morsi
menggelar demonstran pada hari yang sama, Jumat (26/7/2013) lalu. Seluruh
kantor berita dan redaksi media massa yang memantau perkembangan Mesir
mengabarkan bahwa semua stasiun televisi di Mesir menayangkan gambar demonstran pro militer sepanjang waktu tanpa
sedikit pun menayangkan gambar demonstran pro Morsi.
Tak
tanggung-tanggung, militer bahkan mendukung siaran televisi itu dengan
mengerahkan helikopter Apache bikinan Amerika Serikat (AS) berputar-putar di
atas lapangan Tahror guna mendapatkan rekaman gambar demonstran pendukung
mereka dari ketinggian. Lapangan Tahrir adalah sentra demonstrasi penentang
Morsi sejak akhir Juni lalu.Rekaman gambar itu lalu disiarkan tanpa logo dengan
harapan bisa ditayangkan ulang oleh televisi mancanegara secara gratis ke
seluruh dunia.
Pada
kenyataannya, media massa mancanegara tetap memberitakan secara berimbang.
Kabar tentang masih bertahannya demonstran pro Morsi di 30 titik Kota Kairo
dengan lapangan depan Masjid Rabiah Al Adawiyah menyebar dengan berbagai
peranti teknologi, termasuk media jejaring sosial yang terinstal pada pesawat
telepon pintar.
Belakangan Kantor Berita Antara dengan
mengutip kantor berita resmi Mesir, MENA, menyebutkan 74 atau 75 tewas akibat
bentrokan yang meletus, Jumat dan berlanjut sampai Sabtu dini hari itu.
“Sembilan di Iskandariyah dan 65 di dekat bundaran Rabiah Al-Adawiyah ibu kota
Mesir, Kairo,” ungkap MENA yang mengutip seorang pejabat Kementerian Kesehatan.
Ditambahkan pula olehnya, tak kurang
dari 748 orang cedera dalam insiden itu. Dengan demikian, simpul Reuters, jumlah korban jiwa yang jatuh setelah Al Sisi
menggulingkan Morsi telah mendekati angka 300 orang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar